Facebook

Tampilkan postingan dengan label berita kalianda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita kalianda. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Desember 2017

Cuaca Ekstrem Landa Pesisir Pantai Rajabasa, Rumah Rusak Dihantam Gelombang

LAMPUNG POST | Cuaca Ekstrem Landa Pesisir Pantai Rajabasa, Rumah Rusak Dihantam Gelombang
Beberapa fasilitas milik warga di Deaa kunjir, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, rusak akibat dihantam gelombang laut setinggi 5-6 meter, Kamis (30/11/2017) sore. (Foto:Dok. Warga)


KALIANDA (Lampost.co) -- Cuaca ekstrem dan gelombang tinggi mencapai ketinggian 5-6 meter melanda pantai kawasan pantai pesisir Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Kamis (30/11/2017) sore.
Akibatnya sejumlah fasilitas milik warga di sepanjang bibir pantai diterjang ombak.  Berdasarkan informasi yang dihimpun Lampost.co, meski tidak ada korban jiwa, namun hantaman ombak mengakibatkan beberapa gazebo dan fasilitas lainnya rusak.
Bahkan, hantaman ombak hingga memasuki badan jalan pesisir Kecamatan Rajabasa. Ade Mutia (36), salah satu warga di Pelabuhan Desa Canti mengatakan ombak besar mulai terjadi sejak pukul 10.00 WIB.
Dimana, ketinggian ombak mencapai 5-6 meter hingga menghantam bangunan Pelabuhan Canti. "Dari pagi tadi ombak sudah mulai besar, tapi yang paling tinggi dari sekitar 14.00 WIB. Terjangan ombak telah merusak beberapa jembatan pelabuhan dan bangunan lainnya. Bahkan, perahu motor yang sedang nyandar hampir menaiki daratan," katanya, Kamis (30/11/2017).
Diterjang Ombak. (Foto:Dok.Warga)
Hal sama dikatakan, Dessi Sahara (20), warga Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa. Dia mengatakan hujan deras yang disertai angin kencang membuat ombak naik ke badan jalan. Bahkan, merobohkan beberapa bangunan yang berada di pinggiran pantai, seperti gazebo dan lainnya. 
"Terjangan ombak sekitar 5 meter dan akibat terjangan badai tersebut telah merobohkan beberapa warung dan pertamini milik warga yang berada di bibir pantai," ujar Dessi. 
Sementara itu, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon Camat Rajabasa Mandala Putra mengatakan hingga saat ini belum mendapatkan jawaban. *
 
Ombak besar terjang sejumlah fasilitas di Pantai Rajabasa, Lampung Selatan, Kamis (30/11/2017. (Foto:Dok.Warga)Ombak besar terjang sejumlah fasilitas di pantai Rajabasa, Lampung Selatan, Kamis (30/11/2017). (Foto:Dok.Warga)Sumber: http://www.lampost.co/berita-cuaca-ekstrem-landa-pesisir-pantai-rajabasa-banyak-fasilitas-dan-rumah-rusak

Selasa, 07 November 2017

Epiji 3 Kg di Ketapang Tembus Rp30 Ribu/Tabung

Harga gas epliji subsidi 3 kg melambung hingga Rp30 ribu di Ketapang, Lampung Selatan. (Foto:Lampost/Aan Kridolaksono)


KALIANDA (Lampost.co)--Kelangkaan elpiji 3 kg di sejumlah desa di Kecamatan Ketapang, dan Bakauheni, kabupaten Lampung Selatan berlarut-larut sejak sepekan terakhir. Akibatnya harga gas bersubsidi tersebut menjadi tidak terkendali di tingkat pengecer hingga tembus Rp30 ribu per tabung

"Katanya pasokan dari pangkalan stabil setiap pekannya. Namun, sudah sebulan ini harga gas elpiji 3 kg di warung masih tinggi, melambung menjadi Rp35.000," kata seorang ibu rumah tangga  Ratih (36) di desa Bangunrejo, Kecamatan Ketapang, Senin (6/11/2018).

Ratih menjelaskan awal Oktober lalu ia mendapatkan gas 3kg di warung di luar Desa Bangunrejo seharga Rp30 ribu per tabung.  Menurut mereka, harga naik lantaran terjadi kelangkaan.
“Kemarin mendapatkan gas subsidi di warung tidak masih dari rumah juga Rp30 ribu/tabung,” ujarnya.
Selain di Kecamatan Ketapang, harga gas elpiji di Kecamatan Bakauheni pun masih tinggi.
Seorang ibu rumah tangga di kecamatan Bakauheni Nur Halimah (30) menyebutkan harga gas elpiji 3 kilogram di pedagang eceran naik Rp10.000 dari sebelumnya Rp20.000 per tabung.

“Harga gas melon masih Rp 30ribu per tabung dan masih sulit ditemui disejumlah warung desa kami,” katanya.

Sumber : https://goo.gl/4dVVBa

Selasa, 24 Oktober 2017

BPPRD Lampung Selatan Verifikasi Ulang Lahan Wajib Pajak

Ilustrasi pajak. Dok. Lampost.co
KALIANDA - Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) Lampung Selatan masih melakukan verifikasi ulang lahan wajib pajak golongan I, IV, dan V. Ini dilakukan agar pendapatan asli daerah (PAD) meningkat dari sektor pajak bumi dan bangunan (PBB).

Kepala Bidang PBB P2 dan BPHTB BPPRD Lampung Selatan Edy Novian, mendampingi Kepala BPPRD Lamsel Burhanudin, mengungkapkan proses pendataan ulang tersebut ketika ditemui di ruang kerjanya, Selasa (24/10/2017).

Menurut dia, pemetaan pajak golongan I meliputi perumahan yang ada di daerah pedesaan dan perkotaan dengan nilai PBB-nya sebesar Rp45 ribu/bidang. Lalu, golongan IV meliputi lahan perkebunan dan pertanian dengan nilai PBB-nya di bawah Rp2 juta. Sementara untuk nilai PBB-nya di atas Rp2 juta, antara lain lahan milik perusahaan dan industri.

"Alhamdulillah, kini sudah 28 unit perusahaan kami lakukan pendataan ulang dari 800-an perusahaan. Jadi, masih sangat banyak sekali wajib pajak yang belum kami ukur ulang lahannya. Sebab, dalam melaksanakan verifikasi ulang dibutuhkan anggaran yang tidak sedikit," ujarnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan untuk saat ini verifikasi ulang lahan wajib pajak baru dilakukan di wilayah lima kecamatan, antara lain Kecamatan Katibung, Tanjungbintang, Natar, Sidomulyo, dan Ketapang. "Ya, pada tahap awal ini lima kecamatan lebih dahulu dan nanti akan dilakukan pada semua kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan ini," kata dia.

Ketika ditanya soal apakah sudah dilakukan pengembalian sebesar 10% ke tiap desa di Kabupaten Lampung Selatan dari hasil pungutan PBB dan retribusi lainnya, baik Edy Novian maupun Burhanudin tidak dapat memberikan keterangan.

Pasalnya, peraturan mengenai tersebut diketahui dengan jelas oleh BPPRD Lamsel. "Kami belum tahu, jika ada pengembalian sebesar 10% untuk tiap desa dari hasil pengumpulan PBB dan retribusi lainnya yang diperoleh dari perdesaan," ujarnya.

Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Lasel Intji Indriati menyatakan surat keputusan (SK) dari BPPRD Lamsel sudah dibuat dan mendapatkan persetujuan dari bupati setempat. Sebab itu, 10% untuk desa dari hasil pengumpulan PBB dan retribusi lainnya akan digelontorkan ke rekening tiap desa.

"Saya sudah minta dengan BPPRD Lampung Selatan SK-nya. Tapi, hingga kini belum ada," kata Intji ketika ditemui di lingkup kantor bupati Lamsel.

Sumber : https://goo.gl/JmyBeJ

Jumat, 13 Oktober 2017

Warga Kedaung Soroti Proyek Ruas Jalan Pematangbom

Warga setempat menyoroti proyek di ruas jalan Kedaung Barat - Pematangbom Desa Kedaung, Kecamatan sragi, lantaran tidak dilengkapi papan plang proyek. (Lampost.co/Armansyah)

KALIANDA (Lampost.co) -- Sejumlah warga di desa Kedaung, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan, menyoroti pembangunan ruas jalan dusun Kedaung Barat-Pematangbom desa setempat. Pasalnya, hingga kini pembangunan yang bersumber dari APBD 2017 Lamsel itu tidak dilengkapi papan plang nama proyek.

Berdasarkan pantauan Lampost.co, Kamis (12/10/2017), sepanjang proyek pembangunan jalan tersebut tidak dilengkapi papan plang proyek sehingga masyarakat setempat kesulitan untuk mengawasi proyek tersebut. Padahal, proyek itu telah berjalan sejak sepekan terakhir.

Seperti yang diungkapkan, Jon (36) warga desa Kedaung mengatakan ia sangat menyayangkan proyek pembangunan ruas Jalan Kedaung Barat - Pematangbom yang tidak dilengkapi papan plang proyek. Bahkan, masyarakat tidak sepenuhnya mengetahui terhadap proyek dari APBD Lamsel tersebut.

"Bagaimana masyarakat mau mengontrol dan mengawasi kalau papan proyek tak di pasang oleh kontraktor. Hal ini bisa membuat keleluasaan kontaktor berupaya bermain-main dalam pelaksanaannya. Dari hal yang kecil saja enggak dilakukan," kata dia.

Menurutnya, beberapa masyarakat setempat berupaya mempertanyakan proyek tersebut kepada Kepala Desa Kedaung, Lasiyem. Namun, hal yang sama dialami pejabat desa tidak mengetahui proyek iti.

"Sudah ada yang bertanya kepada Bu Kades. Beliau juga enggak tahu siapa yang mengerjakannya. Warga cuma dikasih tau kalau jalan itu proyek dari APBD Lamsel," kata dia.

Hal senada diungkapkan, Rolo (38) warga yang sama. Dia mengatakan pejabat yang paham mengenai proyek saja tidak bisa mengawasi pelaksanaan kegiatan tersebut, lantaran proyek tidak memasang plang atau papan informasi paket pekerjaan, apalagi masyarakat biasa.

"Kami berharap proyek pembangunan jalan yang beraumber dari APBD itu dapat dilengkapi papan plang nama. Sehingga pekerjaannya tidak dikerjakan asal jadi," katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Kedaung Lasiem mengatakan pihaknya tidak mengatahui rekanan dari mana yang mengerjakannya. Sebab, hingga kini pihaknya belum menerima laporan adanya pembangunan tersebut.

"Memang belum ada papan plang namanya. Bahkan, saya enggak tau siapa rekanan (pemborong) yang mengerjakan. Hal ini bukan saya saja, tapi masyarakat juga banyak yang bertanya-tanya. Kami minta rekanan agar lebih transparan," kata dia.

Sumber : https://goo.gl/UwBhCh

Senin, 09 Oktober 2017

Eko Susanto Tewas Usai Gantung Diri di Kandang Ayam

Eko Susanto (19), warga Dusun Lebung Baru, Desa Sukabakti, Kecamatan Palas, Lampung Selatan tewas mengenaskan setelah gantung diri di kandang ayam milik mertuanya, Senin (9/10/2017) pagi, di Desa Sukaraja, Kecamatan Palas. (Foto: Lampost/Juwantoro)

KALIANDA (lampost.co) -- Eko Susanto (19), warga Dusun Lebung Baru, Desa Sukabakti, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, tewas setelah gantung diri di kandang ayam samping rumah mertuanya, di Desa Sukaraja, Kecamatan Palas, Senin (9/10/2017).

Painah (35), warga Desa Sukaraja, Kecamatan Palas, mengatakan pagi itu dirinya hendak mengambil air di sumur berada di samping rumahnya tidak jauh dari kandang ayam. Tanpa sengaja ia melihat ada orang berdiri di dekat kandang ayam. Namun, tidak bergerak sama sekali. "Begitu saya dekati ternyata Eko Susanto, gantung diri. Lalu, saya teriak-teriak minta tolong orang-orang," ujar dia saat ditemui di kediamannya.


Sementara itu, warga setempat, Adi Jayono (35), menjelaskan Eko Susanto merupakan buruh harian PT Sumber Protein Indonesia (PT SPI). Sebelum meninggal, korban sudah tiga hari tidak pulang ke rumah mertuanya. "Yang pasti ada persoalan dengan istrinya (Resti) yakni masalah keluarga," katanya.

Sumber : https://goo.gl/4DZEp4

Rabu, 27 September 2017

Hujan Semalaman, Jalan Desa Banyak yang Banjir

Kondisi jalan di Desa Bumiasri, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, yang digenangi air, Rabu (27/9/2017) pagi. (Foto: Lampost/Armansyah)

KALIANDA (lampost.co) -- Hujan yang mengguyur sejak Selasa (26/9) malam hingga Rabu (27/9) pagi, mengakibatkan sejumlah jalan desa di Kecamatan Palas, Lampung Selatan, terendam air hingga banjir. Akibatnya, akses transportasi darat terganggu. Berdasarkan informasi yang dihimpun lampost.co, akses jalan desa yang terendam banjir terjadi dibeberapa desa, seperti Desa Tanjungjaya, Bumiasri dan Kalirejo, Kecamatan Palas. Kemudian Desa Sukatani, Kecamatan Kalianda.


Kondisi Jalan Desa Tanjungjaya, Kecamatan Palas, Lamsel, yang digenangi banjir, Rabu (27/9) pagi. Lampung Post/Dok Warga

Menurut Dewi (25) salah satu perangkat Desa Tanjungjaya mengatakan, akibat hujan semalaman akses transportasi di desanya terhambat akibat jalan desa setempat digenangi air. Setidaknya pengguna jalan seperti pegawai dan pelajar harus menunda perjalanan mereka. "Semalaman hujan lebat mengakibatkan jalan desa kami ikut terendam. Jelas, akses transportasi para pengguna jalan, baik pegawai dan pelajar terhambat," kata dia saat dihubungi, Rabu (27/9/2017).


Kondisi Jalan Desa Kalirejo Kecamatan Palas, Lamsel, yang digenangi banjir, Rabu (27/9) pagi. Lampung Post/Armansyah

Hal senada diungkapkan, Suhen (35) warga Desa Kalirejo, Kecamatan Palas. Dia mengatakan hujan yang mengguyur sejak tadi malam mengakibatkan tanaman padi siap panen terendam. Bahkan, banjir juga merendam jalan desa setempat. "Sawah kami seperempat yang siap panen terendam banjir. Lihat saja sekarang sampai menggenangi jalan desa," kata dia.

Selain itu, banjir juga merendam jalan desa di daerah Desa Sukatani, Kecamatan Kalianda. Sejumlah pengguna jalan yang melintas terpaksa kendaraannya mogok akibat menerabas banjir tersebut. "Hujan semalam sampe pagi ini ada dua titik yang tergenang air, didekat pasar dan dekat sawah ketinggian air sampai dengkul. Lokasi genangan banjir di Desa Sukatani, di pasar, dekat proyek tol yang banjir, motor pada mogok. Jalan juga licin disepanjang yang dilalui proyek," kata Rohiman (35), pengguna jalan.

Sumber : https://goo.gl/HD4EqM

Senin, 25 September 2017

Camat Sragi Bersama Warga Gotong Royong Timbun Jalan

Camat Sragi, Lamsel, Bibit Purwanto bersama masyarakat bergotong royong menimbun jalan penghibung Desa Margasari-Mandalasari, Kecamatan setempat, Minggu (24/9/2017). Lampung Post/Armansyah

KALIANDA (Lampost.co) -- Camat Sragi, Lampung Selatan, Bibit Purwanto bersama masyarakat Desa Margasari dan Mandalasari, kecamatan setempat bergotong royong menimbun jalan penghubung kedua desa tersebut, Minggu (24/9/2017). Jalan desa itu ditimbun lantaran kondisinya rusak parah.

Bibit Purwanto mengatakan dirinya bersama masyarakat sengaja bergotong royong menimbun jalan penghubung kedua desa tersebut karena prihatin kondisinya rusak parah. Jalan itu sangat sulit dilalui kendaraan roda empat. "Jalan itu sudah lama rusak parah. Penyebab kerusakan jalan itu karena badan jalan masih labil. Soalnya, kiri dan kanan jalan tersebut lahan persawahan. Untuk itu, kami berinisiatif menimbun jalan itu dengan tanah dan bebatuan," kata dia, Mingg (24/9/2017).

Menurut Bibit, jalan tersebut merupakan akses utama bagi masyarakat Desa Margasari dalam mengangkut hasil pertanian dan aktivitas lainnya. Akibat jalan rusak parah, dipastikan aktivitas masyarakat setempat terganggu. "Kami harapkan kepada Kepala Desa Margasari bersama Mandalasari agar kiranya dapat mengajukan proposal kepada Pemkab Lamsel. Mudah-mudahan Pemkab Lamsel merespons dan dapat memperbaikinya. Soalnya, jalan itu desa kewenangan Pemkab Lamsel," kata dia.

Sementara itu, Basri (35), warga Desa Margasari mengatakan ia bersama masyarakat lainnya berharap jalan yang diperkirakan sepanjang 1 kilometer itu bisa diperbaiki dalam wakti dekat. "Kami hanya mengharap agar jalan itu bisa segera diperbaiki. Sebab, selama ini kami kesulitan mengangkut hasil bumi. Untuk beraktivitas keluar desa saja kami sulit," kata dia.

Sumber : https://goo.gl/U7RDi6

Buruh Tambak Udang Ditemukan Tewas, Diduga karena Kecelakaan Kerja

Warga membawa jenazah Daus (37), penjaga tambak udang yang ditemukan dalam kondisi leher nyaris putus di lokasi tempatnya bekerja di paret 7 Desa Be4undung,  Ketapang,  Lamsel, Minggu (24/9/2017) sore. Lampost.co/Istimewa

KALIANDA (Lampost.co) -- Daus (37), penjaga tambak udang, ditemukan tewas dengan leher nyaris putus di lokasi tempatnya bekerja di Paret 7 Desa Berundung,  kecamatan Ketapang,  Lampung Selatan,  Minggu (24/9/2017), sekitar pukul 16.30.

Korban warga Dusun Trenggalek, Desa Sumberagung,  Kecamatan Sragi itu yang menjaga tambak udang seluas 1 hektare milik H. Mashafidul Wahyi, warga Kalianda,  tewas diduga tergulung kopel mesin kincir air ala bagongan yang ada di lokasi tambak udang tempat korban bekerja selama ini.

“Kami duga leher korban yang nyaris putus itu disebabkankan masuk gulungan kopel mesin kincir air,” kata Abeng Surya (38), warga setempat kepada Lampost.co, Minggu (24/9/2017) malam.

Hal senada dibenarkan Kapospol Kecamatan Ketapang Bripka Nurkholis. Menurut dia,  korban tewas dengan leher nyaris putus murni kecelakaan kerja. “Saat ini jenazah korban telah diserahkan  kepada keluarga.”

Sumber : https://goo.gl/ReZkmp

Selasa, 19 September 2017

Pajak 500 Randis di Lamsel Tertunggak

Pajak kendaraan bermotor. www.imcnews.id


KALIANDA (Lampost.co) -- Pajak 500 unit kendaraan dinas (randis) milik Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan, termasuk sepeda motor para kepala desa (kades) setempat, selama tiga tahun terakhir tertunggak. Dalam rapat koordinasi pejabat Pemkab Lamsel, Senin (18/9/2017), di Aula Krakatau, kantor Bupati setempat, Bupati Lampung Selatan Zainudin Hasan menyatakan hal itu terjadi karena kurangnya disiplin jajaran Pemkab Lamsel.

leh karena itu, Bupati berharap pada 2018 tunggakan pajak randis milik Pemkab Lamsel tersebut terlunasi. Zainudin menginginkan aset-aset milik Pemkab setempat dapat ditertibkan termasuk dalam hal kewajiban membayar pajaknya. “Ini bukan masalah tidak ditangkap atau ditangkap. Tapi, bagaimana orang lain mau bayar pajak kendaraan, sementara kita sebagai pelaku penertiban pajak juga bisa membayar pajak dengan baik," ujar Zainudin dalam rapat tersebut.

Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Lamsel Fredy SM menyatakan tunggakan itu harus ada solusinya. Menurut dia, randis milik Pemkab Lamsel termasuk sepeda motor yang dipakai kades hendaknya pajaknya dibayar tahun depan menggunakan dana desa. "Saya minta anggaran dana desa tahun depan dapat dialokasikan untuk bayar pajak sepeda motor yang dipakai para kades. Para pemegang randis bisa melihat STNK-nya.

Jangan hanya bisa bawanya saja, tapi pajaknya tidak dibayar," kata dia.
Lebih lanjut Fredy SM menjelaskan pihaknya mendapatkan teguran dari Pemprov Lampung, karena banyak randis milik Pemkab belum dibayarkan. “Ketaatan dalam membayar pajak merupakan suatu bentuk kepatuhan," ujar dia.

Sumber : https://goo.gl/5YHhoc

Senin, 18 September 2017

Penggiat Literasi Bantu Air Bersih Warga Dua Dusun di Bakauheni

Penggiat literasi Perahu Pustaka Bakauheni memberikan bantuan 3.000 liter air bersih kepada warga Dusun Kayu Tabu dan Dusun Pematang Macan, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni,  Lamsel, Sabtu (16/9/2017). Dok. Penggiat Literasi Perahu Pustaka Bakauheni

KALIANDA (Lampost.co) -- Krisis air bersih akibat kemarau yang melanda warga Dusun Kayu Tabu dan Dusun Pematang Macan, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni,  Lampung Selatan menjadi perhatian penggiat literasi Perahu Pustaka yang membawa ratusan buku bagi anak-anak di pesisir pantai tersebut.

Dengan melibatkan motor Pustaka dan Chips Pustaka, para penggiat literasi tersebut membagikan 3.000 liter air bersih kepada warga di dua dusun tersebut,  Sabtu (16/9/2017).

Radmiadi, penggiat literasi Perahu Pustaka Bakauheni, mengatakan kesulitan air bersih yang dialami warga Dusun Kayu Tebu dan Pematang Macan turut menjadi perhatian para penggiat literasi.
“Sebanyak 3.000 liter air bersih telah kami bagikan kepada warga yang kesulitan air bersih akibat musim kemarau di dua dusun tersebut,” kata Ratmiadi yang juga Komandan SAR PT ASDP Cabang Bakauheni kepada Lampost.co, Minggu (17/9/2017).

Ia berharap ancaman kekeringan yang mengakibatkan sulit air bersih yang kerap melanda dua dusun saat musim kemarau bisa mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten setempat.
“Kami berharap Pemkab bisa memberikan bantuan air bersih untuk saat ini.  Untuk ke depannya, kami harap bisa memberi bantuan sumur bor. Sehingga kesulitan air bersih tidak menjadi ancaman setiap musim kemarau,” harap Radmiadi.

Menurut Kepala Dusun Kayu Tabu, Samsul Maarif, sumber air bersih yang disalurkan melalui jaringan pipa saat ini mulai mengalami kekeringan. Kini,  sebagian warga terpaksa membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

“Di dusun kami hanya ada sumur tadah hujan atau menyedot air dari siring yang dimasukkan kolam penampungan. Tapi saat ini mulai kering,” ujarnya.

Dia menjelaskan sebagian warga yang tidak membeli air,  harus menempuh jarak 1km untuk mengambil air dari sumur yang ada di kawasan hutan lindung. “Saat ini pun debit airnya sudah mulai berkurang,” ungkapnya.

Ia juga mengharapkan ada bantuan sumur bor dan bak penampungan air dari Pemerintah Kabupaten. Sebab kekeringan ini selalu dialami warga setiap musim kemarau panjang.

“Kami sangat berharap pemerintah memberikan bantuan sumur bor dan bak penampungan air yang besar. Sehingga warga tidak lagi kesulitan air bersih saat kemarau seperti sekarang ini,” harap Kadus Kayutabu.

Sumber : https://goo.gl/Q4w6Po

Jumat, 15 September 2017

Truk Muatan Udang Terguling, Sempat Dijarah Masyarakat

Truk bermuatan udang yang hendak ke Bakauheni terguling di jalinsum Kalianda karena menghindari motor. Banyak warga ikut mengambil udang yang bertaburan, Kamis (14/9/2017), dan aksi sempat berhenti setelah petugas datang. (Foto:Lampost/Perdhana


KALIANDA (Lampost.co)--Sudah terguling dijarah pula. Itulah yang dialami truk cott diesel BE-9036-CW yang terguling di jalan lintas sumatera (jalinsum) KM 43-44, Desa Munjuksampurna, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan, Kamis (14/9/2017) sekitar pukul 16.00 WIB, karena menghindadri sepeda motor yang nyelonong.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun lampost.co, kecelakaan yang menimbulkan kemacetan hingga 2 km itu, bermula saat truk yang dikemudikan Rido (26) melaju dari arah Bandar Lampung menuju Bakuheni.

Tepat di lokasi kejadian, sepeda motor muatan rumput melaju ke jalan raya, langsung menuju arah Bakauheni. Truk yang dikemudikan warga Kecamatan Gedongtatan, Pesawaran itu, langsung menghindar  banting stir ke kiri.

Truk muatan uadang ini terguling karena menghindari motor. Warga pun langsung menjarah muatan udang yang berceceran di Jalinsum,Kalianda, Kamis (14/9/2017). (Foto:Lampost/Perdhana)


Namun, nahas, truk bermuatan sekitar 2 ton udang windu itu, hilang kendali, lalu menabrak lampu jalan dan terguling. Muatan udang windu yang rencananya hendak dibawa ke Jakarta itu, sempat dijarah oleh masyarakat.

"Saya bawa mobil sendiri, tiba-tiba dari arah kiri jalan, muncul motor bawa rumput, belok ke kiri," katanya kepada lampost.co.

Dijelaskannya, jalanan yang menikung, membuat truk muatan udang windu itu hilang kendali dan terguling. "Beruntung saya tidak mengalami luka-luka," kata dia.

Tidak lama berselang, Anggota satuan lalulintas dan Polsek Kalianda serta Polres Lampung Selatan datang dan mengamankan lokasi dan mengatur lalulintas.
"Kalau pak polisi tidak cepat datang, udang itu habis semua dijarah," kata Mahmud (43) pengendara sepeda motor yang lewat.

Sampai berita ini diturunkan, belum ada komentar dari pihak terkait. Para petugas, masih mengevaluasi truk yang terguling serta olah Tempat Kejadian Perkara (TKP)

Sumber : https://goo.gl/DJ22AZ

Senin, 11 September 2017

Hadapi Kekeringan, Petani Diminta Optimalkan Pompanisasi

Pembangunan embung mini yang baru dibangun di Desa Sumberagung, Kecamatan Sragi, Lamsel, Jumat (8/9/2017), diharapkan dapat menampung air untuk menghadapi musim kemarau. Lampung Post/Armansyah

KALIANDA (Lampost.co)  -- Guna menghadapi kekeringan, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Penyuluhan Pertanian Kecamatan Sragi, Lampung Selatan, Agus Santoso meminta petani mengoptimalkan pompanisasi, baik dari saluran irigasi, embung, dan sumur bor.

"Agar tanaman padi bisa bertahan disaat musim kemarau, petani harus bisa mengoptimalkan pompanisasi yang ada. Jangan sampai tanaman padi mengalami kekeringan, hingga berdampak gagal panen," kata dia saat dihubungi Jumat (8/9/2017) malam.

Menurutnya, dalam meningkatkan pompanisasi tersebut petani harus memanfaatkan sumber air terdekat, baik saluran irigasi, sumur bor maupun embung. Saat ini, ia menilai air di saluran irigasi mulai menyurut.

"Kalau siang air di saluran irigasi sudah surut. Namun, disaat malam hari air di saluran irigasi kembali banyak karena air laut pasang," ujarnya.

Dia mengatakan saat ini Kecamatan Sragi memiliki bantuan sumur bor jenis sible (kecil, red) sebanyak 10 unit dan sumur bor besar sebanyak 3 unit. "Untuk sumur bor besar ini yang berfungsi hanya ada dua, yakni di Desa Baktirasa. Sedangkan, di Desa Sukapura mesinnya alami rusak," ujarnya.

Di samping itu, Kecamatan Sragi juga memiliki embung sebanyak 3 unit, yang tersebar di Desa Sumbersari 2 unit dan Sumberagung 1 unit. Namun, ada dua unit embung alami kekeringan juga.
"Embung di Sumbersari sama seperti saluran irigasi, airnya kering. Satu lagi di Sumberagung bangunan embung baru saja dibangun, jadi belum bisa dimanfaatkan. Serah terima saja belum kalau enggak salah," katanya.

Agus menambahkan kondisi lahan pertanian di Kecamatan Sragi saat ini masih status terancam kekeringan. Areal persawahan seluas 2.960 hektare sudah tertanami padi semua.
"Sempat ada laporan kekeringan, namun langsung turun hujan deras sehingga areal sawah kembali berair. Tapi, saat ini kondisi lahan sudah terancam kekeringan kembali," kata dia.

Sumber : https://goo.gl/qTazYg

Jumat, 08 September 2017

Warga Talang Waysulan Harapkan Perbaikan Jembatan Gantung

Kondisi jembatan gantung di Desa Talang Waysulan, Kecamatan Way Sulan, Lampung Selatan. (Dok. Warga)


KALIANDA (Lampost.co) -- Masyarakat di Desa Talang Waysulan, Kecamatan Way Sulan, Lampung Selatan, berharap perbaikan jembatan gantung yang sudah uzur.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Lampost. co, jembatan gantung yang dibangun tahun 2009 silam itu menghubungkan desa setempat dengan Desa Wawaykarya, Lampung Timur.

Jembatan yang beralaskan kayu dan papan setiap harinya dilalui masyarakat di kedua desa tersebut untuk beraktivitas ke sekolah dan ke kebun.

Kepala Desa Talang Waysulan, Muhyidin mengatakan jembatan gantung tersebut dibangun delapan tahun silam melalui PNPM. "Jembatan sudah berumur delapan tahun," katanya, Jumat (8/9/2017).

Dijelaskannya, sejak jembatan itu dibangun hingga saat ini perbaikan belum pernah tersentuh pemerintah. Perbaikan dilakukan masyarakat secara swadaya dengan mengganti alas jembatan.

"Kami perbaiki dengan swadaya, menggunakan bahan seadanya," kata dia.

Sumber : https://goo.gl/oCmhbi